Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Dilema Corona Bagi Anak Rantau : Pulkam atau di Kost aja?


Seperti yang kita tahu, Corona telah menjadi bencana nasional. Pemerintah telah menyerukan untuk work from home semenjak Maret 2020 lalu. Sekolah-sekolah diliburkan, kampus diliburkan dan pegawai-pegawai dihimbau untuk melakukan pekerjaan dari rumah. Bahkan banyak iklan-iklan yang menggalakkan #dirumahaja, baik iklan komersial maupun iklan layanan masyarakat.
Jumlah pasien terkonfirmasi COVID19
Confirmed COVID19. Worldometers.

Ini adalah permasalahan bersama masyarakat dunia. Sampai artikel ini dirilis (28/4/2020), terhitung telah sebanyak 3.076.171 orang terkonfirmasi positif COVID19.


Permasalahan yang mungkin dialami oleh anak rantau adalah: haruskah aku pulang ke kampung halaman ataukah tetap tinggal di kos?

Memang di masa sulit seperti ini, kita membutuhkan banyak dukungan; material maupun mental. Tapi, sebelum kamu memutuskan untuk pulkam atau di kos aja, ada baiknya kamu mempertimbangkan hal-hal berikut ini.

1.  Himbauan #dirumahaja dari pemerintah. Apa fungsinya?

Seperti yang kita tahu, virus corona ini sangat cepat penularannya. Lebih parahnya lagi, belum ada vaksin yang bisa diklaim untuk mengobati atau menagkal penyebaran virus ini. Seperti kita sedang berperang dengan sesuatu yang tidak bisa kita lihat. 

Himbauan dari pemerintah ini tujuannya agar virus tidak semakin cepat menyebar. Kita yang berasal dari zona merah penyebaran corona–dan tanpa sadar telah terpapar–lalu pulang ke kampung halaman, kamu akan membawa virus itu dan akan menularkannya kepada keluarga atau orang sekitar. Kita mungkin tidak menyadari ini karena tidak muncul gejala apapun dalam diri kita.

Atau, kita memang terlihat baik-baik saja dan belum terjangkit virus dalam tubuh kita, lalu kita pulang kampung dengan alat transportasi publik, kita bertemu dengan orang-orang yang–tanpa kita tahu–sudah terjangkit virus dalam tubuhnya. Maka, virus itu akan menginfeksi kita juga dan seluruh penumpang yang ada di dalam kendaraan umum lainnya.

2. Menurut berbagai sumber, ada 3 kondisi ketika seseorang terjangkit virus corona


a. Tidak terdapat gejala
Ini dialami oleh mereka yang sistem imunnya kuat. Meskipun mereka positif corona, tapi mereka tidak akan menunjukkan gejala apapun. Dan yang lebih berbahaya, tipe ini bisa lebih banyak menularkan virus corona ke orang lain (menjadi carier).

Tipe ini tidak memerlukan tindakan medis apapun, tetapi disarankan untuk tetap menjaga kekebalan tubuh dengan pola hidup sehat serta melakukan self quarantine untuk mencegah penularan kepada orang lain.

b. Gejala ringan
Ini dialami oleh mereka yang mungkin sistem imunnya agak kurang bagus. Kalau gejala dirasa tidak cukup mengganggu, bisa diatasi dengan tetap berdiam diri di rumah dan menjaga sistem kekebalan tubuh. Tapi kalau gejala dirasa sudah cukup mengganggu, bisa berkonsultasi ke rumah sakit terdekat untuk pemeriksaan lebih lanjut.

c. Gejala berat, bahkan kematian
Ini bisa saja dialami oleh mereka yang memang sudah mempunyai penyakit bawaan atau para orang tua yang memang sistem imunnya sudah kurang kuat. Mereka akan mengalami gangguan sistem pernafasan akut dan harus mendapatkan perawatan khusus di rumah sakit.


Kondisi pasien covid19. Worldometers.
Menurut situs Worldometers, 97% dari pasien positif Covid19 mengalami gejala ringan dan sisanya, sekira 3% pasien positif covid mengalami gejala berat yang dapat menimbulkan kematian.

3.  Apa yang terjadi jika kita pulang kampung?


Kita bisa saja membawa virus dari kota perantauan atau virus yang kita dapat selama di perjalanan dan memungkinkan kita untuk menularkannya kepada keluarga kita di rumah yang lebih rentan untuk menderita sakit serius.

Satu orang saja tertular virus ini, tanpa sadar dia akan menularkan kepada beberapa orang lainnya, dan beberapa orang itu akan menularkan virusnya kepada lebih banyak orang. Penyebaran virus corona secara eksponensial ini akan menyebabkan virus semakin tidak terkendali.

4. Jadi, apakah aku harus tetap di kos?


Ahli bahasa UI, Prof. Dr. Rahayu Surtiati Hidayat, membedakan istilah mudik dan pulang kampung. Menurutnya, mudik adalah mengunjungi kampung halaman yang dilakukan oleh mereka yang sudah ber-KTP di luar kampung halaman itu. Sebagai contoh, seseorang yang berasal dari kampung A merantau ke kota B. Dia akhirnya menikah di kota itu dan mendapat KTP dengan domisili kota B. Jika orang ini pulang ke kampungnya, itu bisa disebut ‘mudik’ yang biasanya dilakukan menjelang lebaran atau hari-hari besar lainnya.

Ilustrasi kedua. Seseorang berasal dari kampung A kemudian merantau ke kota B untuk bekerja, kuliah, dan sebagainya, dengan tujuan tidak memindahkan KTP nya dari yang semula di kampung A menjadi di kota B. Jadi dia tetap memegang KTP dari kampung A. Saat dia kembali ke kampung halamannya nanti, itu disebut pulang kampung, bukan mudik.

Seperti yang sudah disebutkan di awal, tidak ada yang berhak sepenuhnya menentukan keputusan selain dirimu sendiri. Dengan mengenali kondisi dan situasi sendiri, serta memahami resiko apa saja yang akan ditimbulkan, kamu bisa memutuskan untuk tetap tinggal di kos atau pulang ke kampung halaman.

5. Seandainya terpaksa harus pulang ke kampung halaman

Kalaupun terpaksa harus pulang ke kampung halaman, kamu bisa setidaknya meminimalisir risiko dengan:

a. Menggunakan kendaraan pribadi
Ini mungkin bisa sedikit meminimalisir risiko karena kamu tidak secara langsung berdesakan atau berada dalam kerumunan dengan banyak orang. Tapi tentu saja, ini tidak serta merta membuat kamu sepenuhnya terhindar dari virus corona.

b. Memakai masker, sarung tangan, dan sebagainya
Kamu bisa melindungi dirimu sedemikian rupa untuk memastikan bahwa kalaupun ada virus, dia tidak akan langsung masuk ke tubuhmu.

6. Saat sudah di kampung halaman

Sesampainya di kampung halaman, kita tentu tidak berharap ada virus yang menjangkiti kita tapi kita bisa sebisa mungkin meminimalisir dengan:
a. Melepas semua hal yang dikenakan selama perjalan dan langsung mencucinya.
b. Lapor kepada pihak berwajib
c. Karantina mandiri selama 14 hari
d. Pergi ke dokter jika terdapat gejala

Bagaimanapun, dirimu sendirilah yang mengetahui kondisi masing-masing. Semoga bisa menjadi pertimbangan, ya, dalam memutuskan akan pulang kampung atau #dikostaja.

Post a Comment for "Dilema Corona Bagi Anak Rantau : Pulkam atau di Kost aja?"

Berlangganan via Email